Senin, 16 Agustus 2010

INTERELASI ISLAM DAN BUDAYA JAWA DIBIDANG SASTRA

I. PENDAHULUAN
Sastra merupakan bahasa yang indah. Pada zaman dahulu sastra sering kali diterapkan dengan symbol-simbol pada candi. Menurut mereka sastra bukan hanya bahasa indah yang didengar, namun, sastra merupakan keindahan yang dituangkan dalam bentuk karya seni.
Karya sastra Jawa Kuno kaya dengan bermacam tema yang antara lain berhubungan dengan panutan kehidupan, nilainilaikebajikan, dan gagasan-gagasan yang baik lainnya, namun sukar untuk dipahami karena dituangkan dalam bentuk filosofis. Oleh karena itu dalam kajian ini karya sastra Jawa Kuno akan ditelisik prinsip dasar alur kisahnya sehingga dapat diketahui beberapa alasan yang membuat suatu kisah dipahatkan dalam bentuk relief dengan berbagai aspeknya.

II. POKOK BAHASAN
Dalam pembahasan kali ini akan disampaikan beberapa pokok pembahasan siantaranya:
a. Pengertian sastra
b. Fungsi sastra
c. Nilai budaya jawa
d. Keterkaitan islam dalam karya sastra jawa

III. PEMBAHASAN

A. PENGETIAN SASTRA
Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta, berasal dari kata “sas” dalam kata kerja memiliki arti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi. Sedangkan imbuhan “an” menunjuk sarana, alat (Teew, 1984: 3). Sehingga sastra berarti alat mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran.
Dengan kata lain sastra sebagai istilah yang menunjuk bahasan ilmu secara luas, yang meliputi teori sastra, sejarah sastra, kritik sastra.
Istilah sastra dalam bahasa inggris dikenal sebagai literature yang menunjuk pada karya tulis atau karya tulis ayang dicetak. Rene Weelek dan Austi Waren (1993: 3 dan 11) mengatakan bahwwasannya sastra merupakan karya yang menuangkan suatu ide kreatif atau sebuah seni. Sebagai bahan dasar sastra adalah bahasa. Bahasa yang digunakan memang berbeda dengan bahasa keilmuan ataupun bahasa sehari-hari. Rene weelek dan austi waren mengatakan bahwa bahasa memiliki berbagai fungsi diantaranya: bahasa sebagai symbol, bahasa menunjukan sebuah sikap, dll. Dalam bahasa sastra, sarana-sarana bahasa dimanfaatkan secara lebih sistematik dan dengan sengaja. Dalam artian sengaja dibuat untuk menarik sang pembaca dan mempengaruhinya serta membawanya dalam suasana yang dibuat dalam sastra.
Karya sastra terbagi menjadi berbagai bentuk diantaranya: prosa, puisi, dan drama. Dalam ketiga macam bentuk karya sastra memiliki cirri dan gaya tersendiri, sama dengan sastra sendiri merupakan suatu karya keindahan.

B. FUNGSI SASTRA
Berbicara tentng sastra takkan lepas dari fungsi sastra. Fungsi sastra ialah mengungkap sebuah keindahan, nialai manfaat dan nilai moralitas. Suatu karya sastra diaktakan memiliki keindahan karena sastra yang diungkap melalaui prosa, puisi, ataupun drama. Suatu karya yang dapat dinikmati oleh pembacanya, pendengar ataupun penontonnya.
Dengan demikian karya sastra dikatakan baik dari tingkat respon pembaca, pendengar, dan penonton. Jika sebuah karya sastra rendah tentunya akan menjadikan bosan pendengar, pembaca, dan juga penontonnya. Berbeda dengan karya sastra yang mutunya baik. Ia akan selalu mendapatkan perhatian dari pendengar, penontonnya meski diulang-ulang.
Yang terpenting mengenai fungsi karya sastra menurut Edgart Allan yaitu memiliki nilai hiburan dan nilai dikdatik, dapat juga bernilai hiburan dan mengajarkan pesan moral.
Namun dalam jawa kuno sastra dituangkan pada dinding candi. Pada zaman dahulu munculah karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna.
Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.

C. NILAI KEBUDAYAAN JAWA
Secara kodrati budya jawa sama seperti halnya budaya lain, akan selalu mengalami proses perubahan atau perkembangan. Pengembangan tersebut merupakan upaya sadar untuk memajukan budaya kearah yang lebih baik atau sempurna. Hasil upaya tersebut terletak pada atos masyarakat jawa sendiri, aspek moral dan budaya itu sendiri yang tak lepas dari perubahan itu sendiri.
Seperti halnya perkembangan sastra berikut:
a) Sastra jawa kuno
Sastra Jawa Kuno atau seringkali dieja sebagai Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita, undang-undang hukum, kronik (babad), dan kitab-kitab keagamaan. Sastra Jawa Kuno diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. Manuskrip-manuskrip yang memuat teks Jawa Kuno jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.
Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana, Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuno.
Karya sastra Jawa Kuno sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuno terlestarikan di Bali, di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuno yang terlestarikan. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuno yang tidak dikenal di Bali.
Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuno mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles, Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Bersama asistennya, Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuno.
b) Sastra jawa baru
Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi.
Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting.
Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna.
Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru.
Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali.

D. KETERKAITAN ISLAM DALAM KARYA SASTRA JAWA
Keterkaitan antara islam dan sastra jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperative moral atau mewarnai. Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra jawa baru. Sedangkan puisi dipakai untuk memberikan petunjuk atau nasehat yang secara subtansial merupakan nasehat yang bersumber pada ajaran islam. Hal itu terjadi karena sang pujangga berasal dari agama islam.
Atau dapat diakatkan islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra para pujangga keraton surakarta sehingga semua karya-karya sastranya itu berupa puisi yang berupa puisi yang berbentuk tembang / sekar macapat warna islam dalam hal ini terlihat sekali dalam subtansinya, yaitu:
1. Unsur ketauhidan
2. Unsur kebajikan
Dalam sastra jawa yang dipakai adalah satra pujangga keraton surakarta yang memiliki metrum islam, yaitu mijil, kinanti, pucung, sinom, asmaradana, dhandhanggula, pangkur, maskumambang, durma, gambuh, dan megatruh.
Maksud dari keterkaitan antara islam dan karya sastra jawa adalah keterkaitan yang sifatnya imperative moral. Maksudnya keterkaitan tersebut menunjukkan warna keseluruhan yang mendominasi karya-karya sastra tersebut.
Anjuran untuk berdakwah
Dewasa ini, banyak sekali umat Islam yang menyerukan kalimat Ilahi dengan dakwah Islamiyah. Dakwah di sini dalam artian penyebaran agama Islam sekaligus meluruskan pandangan kaum muslimin terhadap agama Islam dari segi akidah maupun ajaran syariat-syariatnya.
Berdakwah melalui seni dan sastra budaya, Sayangnya jika kita amati dakwah kaum muslim akhir-akhir ini tak lebih dari separo yang berhasil mengajak masyarakat sesuai visi dan misi dakwah tersebut. Dibandingkan dengan keberhasilan dakwah nabi Muhammad SAW yang dimulai dari nol hingga mampu melebarkan sayap Islam ke segala penjuru dunia. Melalui perjuangan beliau Islam mampu menyatukan seluruh umat manusia dalam bingkai agama Islam. Padahal pada zaman itu kebudayaan dan kehidupan masyarakat Arab berbanding berbalik dengan ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW.
Walisongo pelopor dakwah dengan seni dan sastra budaya di Jawa. Rupanya, metode dakwah tersebut telah diterapkan oleh Walisongo dalam syiar Islam di Jawa. Walisongo adalah sejumlah guru besar atau ulama’ yang berjumlah sembilan yang diberi tugas untuk dakwah islamiyah di wilayah tertentu. Walisongo mencapai sukses besar dalam syiar Islam di tanah Jawa ini. Selain ahli dalam bidang keagamaan, Walisongo juga ahli dalam seni dan sastra budaya, khususnya sastra pesantren. Dalam penyebaran agama Islam Walisongo juga memasuki ranah-ranah seni dan budaya masyarakat. Mereka gemar dengan kebudayaan dan sastra daerah. Walisongo menciptakan syair-syair atau puisi dan tembang-tembang atau lagu dengan memasukkan ajaran Islam di dalamnya dalam berdakwah. Karya-karya beliau di bidang seni dan satra budaya antara lain:
a) Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.
Beliau termasuk salah satu dari Walisongo yang menyiarkan agama Islam di Gresik. Setelah kerajaan Majapahit lenyap dari sejarah, munculah kerajaan Demak yang dipimpin oleh para Sultan yang didukung oleh para Wali, salah satunya ialah Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga berpartisipasi dalam penyempurnaan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam.
b) Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.
Sunan Bonang termasuk Walisongo yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Beliau menggunakan seni dan budaya sebagai perantara dakwah Islamiyah. Diantara sumbangan beliau dalam seni dan sastra budaya adalah dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan terutama bonang, kenong dan kempul, menciptakan tembang Macapat dan suluk Wujil. Di dalam suluk Wujil berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup dan mistik.
c) Syarifudin atau Sunan Drajat.
Sunan Drajat menjadi juru bicara rakyat yang tertindas dan beliau mengecam elite politik yang hanya mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi. Beliau juga berdakwah melalui sastra budaya. Diantara karyanya adalah tembang Pangkur, yang menghendaki keselarasan jasmani rohani, dunia akhirat untuk memperoleh kesejahteraan hidup.
d) Raden Mas Syahid atau Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer di mata orang Jawa. Di antara karya-karya beliau dalam berdakwah adalah tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal, gamelan Naga Wilanga, gamelan Guntur Madu, gamelan Nyai Sekati, gamelan Kyai Sekati, wayang kulit Purwa, baju takwa, kain balik, tembang Dhandhanggula dan syair-syair pesantren. Di dalam tembang Dhandhanggula tergambar makna-makna kehidupan.
e) Jaka Samudra disebut juga dengan Raden Paku Atau Sunan Giri.
Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel. Selain berdakwah dengan sastra budaya, beliau juga mendirikan Pesantren Giri di Gresik. Karya-karya beliau diantaranya permainan Jetungan, Jemuran, Gula Ganti, Cublek-cublek Suweng, tembang Asmaranda, tembang Pucung dan Ilir-ilir yang sampai sekarang masih sering kita dengarkan. Tembang Ilir-ilir menyuruh kita untuk menggunakan kesempatan hidup di dunia untuk mempersiapkan bekal guna di hari akhir kelak.
f) Jakfar Shadik atau sunan kudus.
Sunan Kudus adalah salah satu Walisongo yang bertugas melakukan syiar Islam di sekitar daerah Kudus, Jawa Tengah. Dalam berdakwah beliau menciptakan karya sastra budaya berupa Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil.
g) Raden Umar Said atau Sunan Muria.
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Beliau disebut Sunan Muria karena wilayah syiar Islamnya meliputi lingkungan Gunung Muria. Karya sastra budaya Sunan Muria sebagai dakwah antara lain Tembang Sinom dan Tembang Kinanti.
h) Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Beliau merupakan peletak pondasi agama Islam di daerah Jawa Barat. Meskipun beliau tidak menciptakan karya sastra budaya, beliau turut aktif mendukung sastra dan budaya di kerajaan Demak. Karena Sultan Trenggono raja ketiga Demak mengawinkan adik putrinya, Putri Demak dengan Syarif Hidayatullah.
i) Raden Rakhmat atau Sunan Ampel.
Selain berpartisipasi dalam bidang sastra budaya sebagai media dakwah, beliau juga mendirikan sebiah pesantren di Ampeldenta Surabaya. Di pesantren inilah berkembang pesat dakwah meliau melalui sastra pesantren. Diantara sastra pesantren yang masih sering kita lantunkan adalah singiran Tombo Ati. Singiran Tombo Ati berisi tentang butir lima dalam kehidupan masyarakat sebagai obat gelisah.
Melalui tembang-tembang tersebut Walisongo mampu meraih hati dan jiwa masyarakat untuk mamahami serta melakukan ajaran-ajaran Islam. Walisongo tidak pernah memaksa dalam bersyiar Islam. Mereka berbaur kedalam masyarakat dan di tengah keakraban merekalah Walisongo memasukkan ajaran-ajaran Islam melalui sendi-sendi humaniora dan budaya masyarakat. Dalam Al-Qur'an surat An-Nahl [16] ayat 125 dijelaskan: ”Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik...”
Kebudayaan jawa yang saat itu (sebelum Walisongo datang) bertentangan dengan Islam sebenarnya telah dibantah oleh Walisongo. Pembantahan Walisongo pada kebudayaan tersebut tidak serta merta mengecam dan menolak melainkan dengan cara halus dengan mengarahkan kebudayaan tersebut sedikit demi sedikit agar tidak bertentangan dengan Islam. Tak jarang kita jumpai dalam pendidikan maupun khutbah-khutbah keagamaan sang guru ataupun khotib menjelek-jelekkan umat beragama. Bahkan amat mudah lidah mereka mengkafirkan sesama muslim yang berbeda haluan/mazhab. Bagaimana mungkin kita menerima dakwah seorang dai jika ia mencaci maki dan mengolok-olok kita ketika berusaha mendekati mereka. Tak heran jika orang non-muslim berpandangan bahwa islam itu agama kekerasan. Mendekati saja sulit, apalagi memasukinya.
Kesembilan Wali dalam Walisongo patut kita hormati dan kita agungkan atas keberhasilan mereka dalam bersyiar Islam, khususnya di Jawa. Sudah cukup terbuktilah bahwa berdakwah Islamiyah melalui seni dan budaya akan membuahkan hasil yang lebih baik. Selama ini model-model dakwah sebagian kaum muslimin terkesan menafikan seni dan budaya masyarakat, sehingga sulit sekali memasuki ranah-ranah kehidupan sosial masyarakat. Kebenaran dari filsafat dan ilmu akan melahirkan cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwujudkan berupa seni serta bahasa dan sastra sehingga terciptalah sebuah kebudayaan sebagai pembentuk sebuah peradaban. Tanpa menyentuh keseluruhan mekanisme tersebut sulit sekali untuk mengajak umat manusia kepada ajaran-ajaran agama Islam..
Dakwah dengan budaya merupakan contoh dakwah bil hal yang menekankan pada pendalaman dan penghayatan akidah serta etika keislaman yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat. Dakwah dengan budaya dapat menguatkan kemampuan individu maupun masyarakat serta memelihara identitas mereka. Kita tahu bahwa sebagian masyarakat terutama generasi muda saat ini enggan menerapkan etika Islam. Dakwah bil hal dengan budaya berarti memperkenalkan budaya Islam kepada segenap kaum muslim, bahwa Islam tidak serta merta menghapus dan menafikan budaya mereka, sehingga mereka mau dan bangga mengakui identitasnya sebagai seorang muslim.
Penggunaan budaya sebagai sarana dakwah bil hal diharapkan menunjang segi-segi kehidupan masyarakat sehingga pada akhirnya ajaran Islam dapat dirasakan membumi. Dengan demikian cita-cita sosial yang diimpikan oleh kaum muslimin dapat tercapai.

IV. KESIMPULAN
Sastra sendiri merupakan suatu keindahan atau dapat dikatakan suatu karya tertulis yang mampu menghanyutkan suasana sang pembaca, pendengar, dan juga penonoton menjadi terlena.
Pada hakekatnya interelasi islam dan sastra jawa sangat berkaitan, dikarenakan dalam sastra jawa sendiri meliputi ajaran moral dan lain sebagainya yang juga diajarkan pada agama islam. Hal tersebut ditemu pada sastra yang menjadi tembang macapat. Sastra jawa yang digunakan adalah sastra atau puisi dari sang pujangga keraton surakarta yang terkenal sastranya bagus.

V. PENUTUP
Demikianlah pemaparan makalah mengenai sastra jawa dengan islam, kami yakin akan adanya kekurangan. Sehingga kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang akan dapat membangun kita kedepan. Meski jauh dari kesempurnaan namun, kami harap dapat memberikan manfaat bagi kita semua, amien….







DAFTAR PUSTAKA

Jamil, Abdul, dkk. Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2002
Suyono, Budaya Jawa Moderat, Yogyakarta: LKIS, 2007
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuno
http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru
http://faizun08.multiply.com/journal/item/50/buletin_jumat_berdakwah_melalui_seni_dan_budaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar